JAKARTA - Kasus penganiayaan masih menjadi salah satu tindak pidana yang kerap terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Beragam motif melatarbelakangi terjadinya tindak pidana tersebut, mulai dari persoalan pribadi, konflik keluarga, sengketa lahan, perselisihan bisnis, hingga tindakan main hakim sendiri yang berujung pada kekerasan fisik.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kasus penganiayaan yang viral di media sosial kembali memunculkan diskusi mengenai pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur hukum serta konsekuensi pidana yang dapat dikenakan kepada pelaku kekerasan.
Menanggapi fenomena tersebut, Advokat Andi Akbar Muzfa, S.H. menegaskan bahwa setiap tindakan yang menimbulkan rasa sakit, luka, atau gangguan kesehatan terhadap orang lain pada prinsipnya dapat dikategorikan sebagai tindak pidana penganiayaan dan memiliki konsekuensi hukum yang tidak ringan.
“Sering kali pelaku menganggap tindakan memukul, menendang, atau melakukan kekerasan fisik sebagai bentuk pelampiasan emosi sesaat. Padahal perbuatan tersebut dapat berujung pada proses pidana, terlebih apabila mengakibatkan luka berat atau bahkan kematian,” ujar Andi Akbar kepada media, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, penganiayaan saat ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP Nasional) yang mengklasifikasikan tindak pidana tersebut berdasarkan akibat yang ditimbulkan terhadap korban.
Ia menjelaskan bahwa hukum membedakan antara penganiayaan biasa, penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, hingga penganiayaan yang menyebabkan kematian. Semakin berat akibat yang dialami korban, semakin berat pula ancaman pidana yang dapat dijatuhkan kepada pelaku.
“Dalam praktik penegakan hukum, penyidik dan penuntut umum akan melihat tidak hanya tindakan yang dilakukan pelaku, tetapi juga akibat yang ditimbulkan terhadap korban. Karena itu hasil visum et repertum sering menjadi alat bukti yang sangat penting dalam perkara penganiayaan,” jelasnya.
Andi Akbar menambahkan bahwa tidak sedikit perkara penganiayaan yang bermula dari konflik sederhana yang seharusnya dapat diselesaikan melalui dialog atau mekanisme hukum yang tersedia. Namun karena emosi yang tidak terkendali, persoalan tersebut berkembang menjadi tindak pidana yang berujung pada proses peradilan.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa tidak ada alasan yang dapat membenarkan penggunaan kekerasan sebagai cara menyelesaikan suatu permasalahan.
“Dalam negara hukum, setiap sengketa memiliki mekanisme penyelesaian yang sah. Ketika seseorang memilih menggunakan kekerasan, maka ia harus siap menghadapi konsekuensi hukum yang timbul dari perbuatannya,” katanya.
Lebih lanjut, Andi Akbar mengingatkan bahwa tindakan pengeroyokan yang dilakukan oleh beberapa orang terhadap satu korban juga dapat menimbulkan pertanggungjawaban pidana bagi seluruh pihak yang terlibat. Dalam kondisi tertentu, perbuatan tersebut bahkan dapat dikenakan ancaman pidana yang lebih berat apabila menyebabkan luka berat atau kematian.
Ia juga menyoroti masih sering terjadinya tindakan main hakim sendiri terhadap orang yang dituduh melakukan tindak pidana tertentu. Menurutnya, tindakan semacam itu tidak dapat dibenarkan dan justru berpotensi menimbulkan perkara pidana baru.
“Siapa pun yang diduga melakukan pelanggaran hukum tetap memiliki hak untuk diproses melalui mekanisme yang berlaku. Masyarakat tidak boleh mengambil alih fungsi penegakan hukum dengan melakukan kekerasan terhadap seseorang,” ujarnya.
Bagi korban penganiayaan, Andi Akbar menyarankan agar segera mencari pertolongan medis, melakukan pemeriksaan untuk kepentingan visum, mengamankan bukti-bukti yang ada, serta melaporkan peristiwa tersebut kepada aparat penegak hukum sesegera mungkin.
Menurutnya, langkah cepat dalam memperoleh bukti medis dan keterangan saksi sangat penting untuk membantu proses pembuktian dalam perkara pidana.
“Korban memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan hukum dan menuntut pertanggungjawaban pelaku. Karena itu, setiap bukti yang berkaitan dengan peristiwa penganiayaan perlu diamankan sejak awal agar proses hukum dapat berjalan secara optimal,” jelasnya.
Andi Akbar menilai bahwa meningkatnya kasus penganiayaan harus menjadi perhatian bersama. Selain penegakan hukum yang tegas, diperlukan pula peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penyelesaian konflik secara damai dan penghormatan terhadap hukum.
“Penggunaan kekerasan hanya akan menambah persoalan hukum baru. Penyelesaian yang mengedepankan dialog, mediasi, dan jalur hukum yang sah jauh lebih bermanfaat bagi semua pihak dibandingkan tindakan yang berujung pada penganiayaan,” tegasnya.
Kalangan hukum menilai bahwa penganiayaan merupakan tindak pidana yang tidak hanya berdampak pada korban secara fisik, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis dan gangguan sosial yang berkepanjangan. Oleh karena itu, penegakan hukum yang konsisten serta peningkatan kesadaran hukum masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menekan angka kekerasan di tengah kehidupan sosial. (Dinda)
| KONSULTASI HUKUM GERATIS... |
|
Kantor Hukum ABR & PARTNERS dibawah pimpinan Andi Akbar Muzfa, SH., Membuka Konsultasi Hukum Geratis Buat Para Pencari Keadilan Yang Membutuhkan Pandangan dan Pertimbangan Hukum...
No. HP/WA : 082187566566 Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat Bagi Sesamanya/Orang Lain... Save Link - Andi AM |
| ✂ Waktunya Belajar... |
Loading Post...
|
.jpg)